Setengah isi Setengah Kosong
Assalamualaikuum

Setengah isi dan kosong. Aa wacis sebenarnya belum membacanya,, hehe. tp dsini. aawacis akan menguraikan setitik hikmah yang diperolehnya.
Setelah melihat air yg diisi setengah, pikiran ku melayang, bahwa air ini akan segera disantap oleh manusia-manusia yg haus. Orang (secara fisik) akan melihat gelas yang terisi air segar.Tapi terbayangkah oleh temen-temen sekalian, bahwa pandangan orang haus terhadap “gelas terisi setengah” itulah yang dibutuhkan oleh manusia dalam menjalani kehidupannya. naah bingung khan?
dalam menjalani kehidupan, kita terjebak dengan pandangan sesuatu yang hilang pada diri kita saja. padahal setelah megetahui bahwa ada sisi yang masih kita miliki, ternyata belum disyukuri dengan baik. Kita terlalu memikirkan, bersedih, dengan sedikit harta yang luput pada diri kita. Padahal kita masih punya harta untuk membeli barang mewah, punya pakaian, punya kehidupan yang layak, yang kesemuanya itu ternyata sangat jaraaang disyukuri. Jadi kita terlalu bersedih dengan “sedikit” hal yang hilang pada diri kita, tanpa disadari, Allah masih memberikan banyak kekayaan untuk kita.
seperti sabda Rasulullah SAW, bahwa kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati: ” Yang dimaksud kaya itu bukan saja kekayaan karena banyaknya harta benda, melainkan yang disebut kaya sebenarnya ialah kaya hati (tenangnya jiwa) ” (Bukhori dan Muslim). Saat teman-teman kehilangan HP, renungkan bahwa masih banyak saudara yang membeli nasi untuk sehari saja susah. Saat teman-teman gagal mengumpulkan uang untuk merayakan kesuksesan dengan makan-makan di Pizza Hut, renungkanlah bahwa masih banyak teman-teman yang makan nasi aking sampai hari ini. Saat teman-teman resah karena orangtua belum membelikan motor baru, renungkan bahwa banyak saudara kita yang harus berdesakan di pagi hari untuk ikut bus.
Memang, semua ini Aawacis tulis untuk menghibur hatiku dan hati teman-teman yang mengalami musibah. Tapi percayalah, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik pada setiap musibah yang kita alami. Terakhir, saya teringat dengan pesan Umar bin Khattab, seorang sahabat Rasulullah yang pemberani, beliau berpesan: “Musibah terbesar bagiku bukanlah kehilangan Harta benda, musibah terbesar adalah Tercabutnya Iman di dalam dada “. So, keep smile deh !

Tinggalkan Balasan